Thursday, 26 May 2011

Pengakuan Perompak Somalia : Kami Penyelamat Bukan Perompak


Terakhir ini perompak Somalia menjadi momok bagi kapal yang lewat di perairan Somalia, perompak somalia ini beraksi dengan teknik kepungan kapal cepat, mereka merapat ke kapal target terus menyerang dan menahan awak kapal. Banyak alasan sebenarnya mengapa mereka sampai merompak, tentu adalah kemiskinan salah satunya. 

Menurut pengakuan pimpinan yang dirilis oleh wartawan Guardian, Rabu, 25 Mei 2011 yang dimuat kembali vivanews. Boyah yang menderita tuberculosis tinggal di peternakan, sekitar 15 kilometer dari luar kota Garowe, wilayah Eyl, Somalia.

Perompak Somalia menolak jika mereka disebut perompak, mereka lebih memilih disebut sebagai 'penyelamat lautan'. Mereka juga tidak pernah membunuh seperti yang dibayangkan, mereka hanya membajak.

Lelaki berumur sekitar 40an ini menolak jika dikatakan dia adalah perompak. Dia lebih memilih kata 'penyelamat lautan' karena aktivitas pembajakan yang mereka lakukan pada awalnya adalah untuk mengusir para perampok hasil laut di perairan Somalia pada tahun 90an. Pembajakan yang kini dia lakukan dianggapnya sebagai pembayaran pajak terhadap kapal yang melintas di perairan Somalia.

Boyah mengaku bahwa dia adalah kepala dari 500 perompak di kawasan itu. Dia membawahi sekitar 35 kelompok perompak. Boyah juga bertanggungjawab atas perekrutan para perompak. Salah satu kriteria yang ditetapkan oleh Boyah untuk seorang perompak cuma satu, "Dia tidak takut mati."

Boyah mengatakan bahwa dia telah membajak sekitar 25 kapal. Dalam pembajakan, Boyah mengatakan bahwa kelompoknya mengepung kapal sasaran seperti serigala mengepung mangsanya. Jika kapal sasaran tidak takut dan malah menyerang balik atau kabur dengan kecepatan tinggi, maka mereka menyerah.
"Hanya 20 sampai 30 persen upaya pembajakan kami yang berhasil. Hal ini dikarenakan mesin kapal kami kalah cepat dengan mereka, atau adanya campur tangan tentara," ujarnya.

Jika kapal sasaran tertangkap dan dibayarkan tebusan, uang berjumlah miliaran rupiah dibagikan ke berbagai pihak. Setengah dari tebusan, ujar Boyah, diberikan kepada para perompak. Sisanya diberikan kepada pemodal, yaitu orang yang memberikan kapalnya dan bensin untuk operasi perompakan, penjaga pantai, penerjemah, atau disumbangkan kepada orang miskin.

Kendati masuk dalam kategori pencurian dengan kekerasan, namun Boyah mengatakan bahwa mereka bukanlah orang yang berbahaya. Perompak, ujarnya, juga punya moral. 

"Kami bukanlah pembunuh, kami tidak pernah membunuh siapapun, kami hanya menyerang kapal," ujarnya.
Boyah mengaku bahwa dia telah melakukan hal yang salah dengan melakukan pembajakan. "Kami sadar kalau kami salah. Kami juga sadar kami tidak lagi memperoleh dukungan masyarakat," ujarnya.

Dukungan yang meredup, jelasnya, adalah karena banyaknya delegasi dari pemerintah maupun tokoh-tokoh agama yang mengatakan bahwa tindakan perompakan adalah haram. Karena hal ini jugalah jumlah para perompak di Somalia semakin berkurang dan banyak yang memilih mencari pekerjaan yang halal.



Share

0 comments:

Post a Comment

Berita Terkait: