Thursday, 12 May 2011

Miris, 1.152 Wanita Diperkosa Setiap Hari di Kongo

Perang bersaudara berlangsung berkepanjangan di Kongo sejak 1998 yang menghancurkan serta menyeret seluruh wilayah tersebut dan negara-negara di sekitarnya. Aksi kekerasan tersebut telah menghancurkan infrastruktur dan perekonomian negara tersebut hingga akhirnya PBB mengambil alih permasalahan di negara itu dan memaksa Presiden Joseph Kabila menyelenggarakan Pemilihan Umum pada 30 Juli 2006.

Kepala negara saat ini, Joseph Kabila (35) disebut-sebut merupakan calon terkuat dan sejumlah polling awal menyatakan Kabila akan menang dalam babak pertama pemilihan presiden. Kabila diperkirakan bisa mengalahkan 33 calon Presiden lain termasuk mantan pemimpin pemberontak Jean-Pierre Bemba, mantan pemberontak yang menjadi menteri keuangan dan dituduh melakukan kejahatan.


Bemba telah melancarkan perang sengit tujuh tahun sejak 1998. Pada puncaknya, konflik di bekas negara Zaire itu, telah menyeret setidaknya tujuh kekuatan militer asing dan, meskipun ada serangkaian kesepakatan perdamaian dan proses peralihan berjalan sejak 2003, pergolakan etnik dan penjarahan terus mewabah bagian timur negeri tersebut.
Calon lain meliputi keturunan tokoh kenamaan di negara bekas koloni Belgia itu, termasuk putra diktator lama Mobutu Seso Seko dan pahlawan kemerdekaan yang terbunuh Patrice Lumumba.
Lumumba menang dalam pemilihan demokratis terakhir di negeri tersebut pada malam menjelang kemerdekaan 1960, tapi ia didepak oleh Mobutu yang membuat negara itu identik dengan korupsi dan salah urus sampai dia digulingkan pada 1997.

Masyarakat internasional, yang mendanai pemilihan umum itu dan mengucurkan dana hampir setengah miliar Dolar AS, berharap pemungutan suara tersebut bukan hanya membawa kestabilan bagi negara Afrika tengah itu tapi juga memungkinkan Kongo menjadi kekuatan ekonomi regional.

Sumber mineral negeri tersebut, yang berlimpah, telah disedot untuk mendanai perang dan bagi keuntungan pribadi sementara kebanyakan warganya hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan tak-adanya prasarana bagi negara tersebut, yang besarnya menyamai Eropa Barat, Pemilu terbukti menjadi tantangan logistik. Di wilayah hutan terpencil, para petugas harus berjalan kaki berhari-hari untuk membawa kartu suara ke TPS.


Akibat perang kekacauan semakin merajalela, salah satunya adalah angka perkosaan yang besar. lansiran vivanews.com : Sebuah penelitian terbaru menunjukkan sebanyak 1.152 wanita di Kongo diperkosa setiap harinya, berarti 48 wanita per jamnya. Hal ini tidak ayal menjadikan negara di Afrika ini menjadi negara paling berbahaya untuk ditinggali wanita.

Dilansir dari laman Associated Press, Rabu, 11 Mei 2011, angka yang diperoleh berdasarkan penelitian Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health ini 26 kali lipat lebih tinggi dari pada angka yang dikeluarkan oleh PBB. Sebelumnya, menurut PBB, diperkirakan terdapat 16.000 kasus perkosaan setiap tahunnya.

Untuk memperoleh angka ini, institut John Hopkins melakukan survei dengan cara wawancara empat mata korban kekerasan seksual Kongo. Michelle Hindin, profesor spesialis kekerasan gender di institut ini mengatakan angka ini seharusnya bisa lebih besar lagi, karena beberapa dari korban enggan menceritakan pengalaman mereka.

"Angka ini jelas mengejutkan," ujar Hindin.

Hasil survei ini akan dipublikasikan di Jurnal Kesehatan Publik Amerika Serikat, Juni mendatang. Survey menunjukkan lebih dari 400.000 wanita telah diperkosa di Kongo selama rentang waktu 12 bulan pada 2006 dan 2007.

Kongo, negara berpenduduk 70 juta orang ini telah sejak puluhan tahun dirusak oleh perang saudara. Beberapa kelompok militan pemberontak menggunakan pemerkosaan dan kekerasan seksual lainnya sebagai salah satu taktik perang. Tindakan ini dilakukan untuk menimbulkan rasa takut, malu, dominasi tentara, maupun untuk memaksa sebagian orang meninggalkan komunitas mereka.


Share

0 comments:

Post a Comment

Berita Terkait: