Friday, 22 April 2011

Mengejutkan, M Rachman Rebut Juara Dunia Kelas Terbang Mini WBA Di Usia Hampir Senja

Muhammad Rachman (terlahir sebagai Mohammad Rachman Sawaludin bin Suhaimat di Merauke, Papua pada 23 Desember 1971) adalah seorang petinju asal Indonesia. Ia adalah mantan juara dunia kelas terbang mini 47,6 kilogram versi IBF. Rachman adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara dari pasangan H. Suhaimat (ayah, seorang PNS di Merauke) dan Siti Maryam (ibu, petani di Merauke). Semasa kecil, Rachman adalah seorang anak yang bandel. Berkelahi, tidur di jalan, menggelandang di pasar, bahkan pengalaman dipenjara sudah bukan hal asing bagi Rachman saat itu. Kemudian, suatu saat dia berpikir, kenapa kenakalannya tersebut tidak disalurkan lewat olahraga tinju.

Rachman kemudian memutuskan bergabung dengan sebuah sasana tinju amatir di Merauke saat dia kelas 1 SMP (sekitar usia 13 tahun). Namun sampai lulus SMEA pada usia 19 tahun, Rachman hanya melulu berlatih, tanpa pernah sekalipun bertanding.
 
Akhirnya Rachman membulatkan tekad untuk berkelana ke tanah Jawa, dan dia "terdampar" di kota Surabaya (tahun 1991). Di kota Pahlawan itu, Rachman mencoba bergabung dengan sasana Pirih milik pelatih dan promotor tinju Eddy Pirih. Karena usianya sudah menginjak 20 tahun, dan dianggap terlambat untuk memulai karier di tinju, Eddy Pirih menolak Rachman bergabung di sasananya. Namun Rachman tidak putus asa, dan akhirnya ia diberi kesempatan sparring dengan para petinju dari Sasana Pirih. Melihat kemampuan, bakat dan minat Rachman yang sangat besar terhadap tinju, akhirnya dia diterima berlatih di Sasana Pirih.
Pada tahun 1993 M. Rachman mengawali karier di tinju profesional, tanpa sekalipun bertanding di jenjang amatir, saat dia menang angka 4 ronde atas Muhammad Daud.

Pada tahun 1991, Rachman berhasil meraih gelar juara nasional kelas terbang mini, saat memukul KO juara bertahan Muhammad Sadik. Kemenangan demi kemenangan diraih Rachman, sampai akhirnya promotor kenamaan saat itu, Aseng, menandingkannya di tingkat internasional melawan petinju Filipina, Roger Mananquil. Rachman berhasil memukul KO Mananquil pada ronde 8 dan merebut gelar juara IBF Intercontinental (level Asia Pasifik) pada tahun 2000.


Muhammad Rachman sudah tidak muda lagi. Usia petinju kelahiran Merauke, Papua itu sudah menginjak 39 tahun. Namun di usia yang sudah tidak muda lagi, Rachman mampu merebut gelar juara dunia.

Rachman atau akrab dengan nama ring Predator tiba-tiba muncul kembali. Tak tanggung-tanggung, Rachman mengejutkan insan tinju tanah air dengan merebut gelar juara dunia tinju kelas terbang mini versi WBA.

Gelar bergengsi itu disandangnya setelah mengalahkan sang juara bertahan asal Thailand, Kwantai Sithmorseng, Selasa, 19 April 2011. Dalam duel ini, Rachman mampu memukul KO Sithmorseng di ronde ke-9.

Kepada fightnews.com, Rachman mengaku tidak didampingi pelatih dalam mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan dunia tersebut. Satu-satunya yang dengan setia menemaninya berlatih adalah istri tercintanya.

Rachman mengaku setiap pagi bangun pada pukul 04.00 WIB. Selanjutnya dia menghabiskan waktu berlari sejauh 10 km mengelilingi stadion sepakbola yang ada di dekat rumahnya di Blitar, Jawa Timur.

"Saya berlari di atas rumput dan saya berpikir saya merasa berlari di atas kanvas," kata Rachman. Selesai berlari, Rachman lalu melanjutkan dengan latihan fisik, seperti push up, sit up dan yang lainnya.

Rachman selesai sekitar pukul 07.00 WIB. Selanjutnya mantan juara dunia tinju kelas terbang mini versi IBF itu mandi dan kembali menjalankan kehidupannya sehari-harinya sebagai seorang pebisnis.

Di siang hari, Rachman kembali menjalani latihan berupa shadow boxing dan memukul kantong pasir. Kegiatan ini dilakukannya sendirian setiap hari usai menerima undangan pertarungan lawan Sithmorseng.

"Saya hanya punya seorang asisten saat latihan, istri saya," katanya. "Dia mempersiapkan makanan untuk saya, dan di siang hari dia menjadi pencatat waktu saat saya memukul kantong pasir," bebernya.

Rachman baru menyewa asisten saat menjalani latihan memukul pad atau bantalan berbentuk sarung tangan. Untuk program ini, petinju dengan rekor 64-10-5, 33 KO mengaku terpaksa menyewa asisten harian.

"Jelang laga ini, saya hanya memukul pad sebanyak lima kali," katanya.

Lantas bagaimana saat sparring partner? Untuk program ini Rachman terpaksa berkunjung ke Surabaya.

"Percaya atau tidak, petinju yang akan tampil pada kejuaraan dunia biasanya melakukan sparring partner hingga 100 ronde. Namun saya hanya menjalani 16 ronde selama 3 hari saya di Surabaya," kata Rachman.

"Selain untuk melatih diri saya, lewat sparring partner saya juga mengajari petinju-petinju muda yang menjadi lawan saya,"lanjutnya.

Mengubah Gaya BertinjuSaat masih muda, Rachman dikenal sebagai petinju counterpuncher yang suka jual beli pukulan dengan lawannya. Saat lawannya memukul sekali, Rachman bisa membalasnya dengan tiga sampai empat pukulan beruntun.

"Namun saya sadar kalau usia saya sudah tidak muda lagi. Saya tidak ingin menghibur orang-orang dengan mengorbankan diriku. Jadi saya memutuskan untuk mengganti gaya bertinju saya," kata Rachman.

"Sekarang saya adalah petinju counter boxer. Saya merancang strategi saya sendiri yang saya sebut sebagai pertarungan efektif dan efisien. Saya tidak akan membiarkan lawan memukul saya, dan saya akan menunggu momen yang tepat untuk melepaskan pukulan," pungkasnya.

Strategi ini terbukti ampuh saat menghadapi Sithmorseng. Meski 10 tahun lebih tua, Rachman mampu mendominasi jalannya pertarungan sebelum akhirnya dinyatakan menang KO atas Sithmorseng pada ronde kesembilan.
Rachman pertama kali merebut gelar juara dunia kelas terbang mini versi IBF usai mengalahkan petinju Kolombia, Daniel Reyes, 14 September 2004. Rachman dua kali berhasil mempertahankan gelarnya tersebut.

Rachman baru kehilangan gelar tersebut saat bertemu petinju Filipina, Florante Condes, 7 Juli 2007. Dalam duel ini, Rachman yang sempat terjatuh di ronde ke-7 dan 10 sebelum akhirnya dinyatakan kalah angka.

sumber : vivanews dan wikipedia 

 
Share

0 comments:

Post a Comment

Berita Terkait: