Monday, 28 February 2011

Hadapi Tekanan Massa Khadafi Mencoba Menyogok Warganya Dengan Uang

Muammar Khadafi sudah memerintah tanpuk kekuasaan Libya sejak 1969 artinya sudah 32 tahun lamanya. Muammar Khadafi di 2011 ini harus menghadapi gejolak massa yang menuntut dirinya untuk mendur seperti halnya negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Mesir, Tunisia, Yordania dll. Kelihatannya Muammar Khadafi tidak ingin turun dari kursi pemerintahan begitu saja, Ia melakukan segala cara untuk mempertahankan dirinya di kursi penguasa, termasuk melakukan pengerahan kepada tentara untuk memberantas massa anti Khadafi. selain itu di kabarkan baru-baru ini Muammar Khadafi berusaha menyogok warganya untuk tetap mendukung pemerintahan sekarang ini. 

Berikut lansiran Vivanews.com : Massa anti Muammar Khadafi kian mendekat ke ibukota Libya, Tripoli. Namun, selain menghadapi massa pemberontak dengan kekuatan bersenjata, Khadafi juga berupaya merayu warga Libya agar tidak ikut membelot. Caranya dengan memberi mereka uang dan menjanjikan kenaikan gaji.

Menurut kantor berita Associated Press, Senin 28 Februari 2011, bank-bank pemerintah mulai memberi uang, yang nilainya setara Rp3,5 juta, untuk tiap keluarga agar mereka tidak ikut memberontak. Insentif sudah diumumkan oleh stasiun televisi pemerintah Libya sebelum shalat Jumat pada 25 Februari lalu.

Menurut stasiun televisi pemerintah, pemberian insentif itu untuk membantu warga menghadapi naiknya harga pangan. Selain itu, ungkap harian The Christian Science Monitor, rezim Khadafi juga berjanji menaikkan gaji pegawai pemerintah sebesar 150 persen. Tampaknya, Khadafi terinsiprasi dengan langkah Raja Arab Saudi, yang beberapa hari lalu berjanji memberikan sejumlah tunjangan tunai kepada warganya untuk meredam gejolak.

"Rakyat Libya masih banyak yang mendukung saya," kata Khadafi kepada stasiun televisi Serbia. "Sekelompok kecil pemberontak telah terkepung dan akan segera diberantas," lanjut pemimpin yang telah berkuasa di Libya sejak 1969 itu.

Namun, sejumlah kota besar di Libya telah dikuasai massa anti Khadafi. Salah satunya di Zawiya, yang hanya berjarak 50 km dari Ibukota Tripoli. "Khadafi keluar!" seru para pemrotes, Minggu 27 Februari 2011.

"Bagi kami, Khadafi adalah 'Drakula' bagi Libya," kata Wael al-Oraibi, seorang tentara Libya yang membelot dari rezim Khadafi. Saat banyak tentara dan pejabat membelot, Khadafi kini mengerahkan milisi-milisi bayaran.

Di Benghazi, para politisi setempat membentuk pemerintahan sendiri untuk mempertahankan rutinitas sehari-hari. Benghazi merupakan kota terbesar kedua setelah Tripoli dan menjadi pusat perlawanan atas milisi Khadafi.




Share

0 comments:

Post a Comment

Berita Terkait: